Jumat, 25 Februari 2011

ISLAM RAHMATAN LIL ALAMIN

Assalamualaikum wr.wb..
Sahabat...Setelah sekian lama kita berkutat dan disibukan dengan urusan  dunia ada baiknya kita sedikit me Refresh diri kita dengan pencerahan  agar kita selalu bisa ingat kepada yg menciptakan kita.... Untuk itu  saya akan berbagi sedikit cerita,pengetahuan,dan untuk me-Review apa yg  selama ini pernah kita ketahui.

ISLAM ADALAH RAHMATAN LIL ALAMIN
“AKHLAQ  RASULULLAH SAW CERMINAN RAHMATAN LIL ALAMIN”

Orang yang belas kasihan akan dikasihi Arrahman (Yang Maha  Pengasih), karena itu kasih sayangilah yang di muka bumi, niscaya kamu  dikasih-sayangi mereka yang di langit. (HR. Bukhari)

Barangsiapa tidak mengasihi dan menyayangi manusia maka dia tidak dikasihi dan tidak disayangi Allah. (HR. Bukhari)

Islam sangat menggalakkan terjadinya hubungan sosial antar sesama  manusia berdasarkan pergaulan yang baik dan akhlak yang mulia. Hal itu  akan berdampak positif terhadap individu dan masyarakat. Oleh karena  itu, banyak sekali nash-nash al-Qur’an maupun hadits yang menganjurkan  agar berinteraksi melalui akhlak seperti ini. Allah Ta’ala berfirman,  “Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf serta  berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (Q.s.,al-a’râf:199) dan  firman-Nya, “Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka  tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah  telah menjadi teman yang sangat setia.”(Q.s.,Fushshilat:34)

Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus rodhiallohu ‘anhu, Rosululloh sholallahu  ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Sesungguhnya Alloh mewajibkan  (kalian) berbuat baik terhadap segala sesuatu, maka bila kalian hendak  membunuh orang (dalam peperangan ataupun yang lainnya), bunuhlah dengan  cara yang baik, dan bila kamu menyembelih (binatang), maka sembelihlah  dengan cara yang baik, hendaklah kalian menajamkan pisau dan  memperlakukan hewan sembelihan dengan lembut.” (HR Muslim)
Surat At Taubah ayat 128
Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri,  berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan  keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap  orang-orang mukmin. لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ  عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ  رَحِيمٌ   128

Seorang muslim wajib meneladani Rasulullah SAW., yang telah dijelaskan  Allah sifatnya dalam firman-Nya, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar  berbudi pekerti yang agung.”(Q.s.,al-Qalam:4). Dalam firman-Nya yang  lain, Allah Ta’ala telah memerintahkan agar meneladani beliau SAW.,  “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang  baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan  (kedatangan) hari Kiamat.” (Q.s.,al-Ahzâb:21)


Kepada Rasulullah Saw disarankan agar mengutuk orang-orang musyrik.  Tetapi beliau menjawab: \"Aku tidak diutus untuk (melontarkan) kutukan,  tetapi sesungguhnya aku diutus sebagai (pembawa) rahmat.\" (HR. Bukhari  dan Muslim).


Seorang mukmin bukanlah pengumpat dan yang suka mengutuk, yang keji dan yang ucapannya kotor. (HR. Bukhari)

Pada permulaan bulan Ramadhan tahun ke-10 Hijrah, Nabi berangkat ke  Mekkah bersama 10.000 orang pasukan. Nabi berkemah di Marr’uz Zahran,  jaraknya kira-kira satu hari perjalanan dari makkah. Sementara itu pihak  Quraisy belum juga mengetahui pasukan kaum Muslimin yang segera  memasuki kota Makkah itu, mereka masih dalam kebingungan, bagaimana  caranya menangkis serangan kaum Muslimin.
‘Abbas paman Nabi yang selama ini selalu memimpin perang melawan  Nabi dan kaum Muslimin, dengan diam-diam telah meninggalkan barisan  kaum Quraisy, pergi mendapatkan nabi menyatakan keIslamannya.
Abu Sufyan yang boleh dikatakan rajanya kaum Quraisy sesudah matinya Abu  Jahal,serta ahli perang yang kenamaan, telah mengikuti pula akan jejaj  ‘Abbas. Ia dating menghadap ‘Abbas untuk dibawa kehadapan nabi guna  menyatakan keislamannya. Selanjutnya setelah menyatakan keIslamannya Abu  Sufyan kembali keMakkah dengan hati tentram. Kepada kaumnya diceritakan  jumlah dan kekuatan tentara kaum Muslimin, yang tidak akan dapat  dibendung oleh siapapun juga. Tetapi barang siapa dating kerumahku (Abu  Sufyan) orang itu akan selamat dan barang siapa menutupi pintu rumahnya  orang itu akan selamat dan barang siapa berlindung dibawah Ka’bah orang  itu juga akan selamat. Dengan demikian berarti bahwa kota Makkah  menyerah tanpa syarat.
Mulailah Nabi dankaum Muslimin bergerak memasuki kota Makkah. Setelah  sampai di Dhu Tuwa, dilihatnya tidak ada perlawanan dari pihak Quraisy,  lalu pasukannya dihentikan. Mereka bersama-sama membungkuk menyatakan  rasa syukur kepada Allah Ta’ala yang telah membukakan pintu Lembah Wahyu  dan tempat rumah suci itu sehingga mereka dapat masuk dengan aman dan  tentram.. Sungguhpun demikian Nabi Muhammad SAW beserta kaum Muslimin  tetap selalu waspada dan berhati-hati. Diperintahkannya pasukan supaya  jangan sampai melakukan pertempuran, jangan samapi meneteskan darah  kecuali jika sangat terpaksa sekali. Zubair bin ‘Awwam dalam memimpin  pasukan itu ditempatkan pada sayap kiri dan diperintahkan memasuki  Makkah dari sebelah utara. Khalid bin Walid ditempatkan pada sayap kanan  dan diperintahkan supaya memasuki Makkah dari jurusan bawah. Sa’ad bin  Ubadah yang memimpin orang Madinah supaya memasuki makkah dari sebelah  barat, sedang ‘Abu Ubaida bin jarrah oleh Nabi Muhammad SAW ditempatkan  dalam barisan Muhajirin dan bersama-sama memasuki Makkah dari bagian  atas dikaki gunung Hind.
Pada saat Nabi beserta kaum Muslimin memasuki kota kelahirannya  itu, dari pihak Quraisy tidak ada perlawanan sama sekali kecuali pasukan  Khalid bin Walid yang dihujani anak panah, karena itulah Khalid bin  Walid terpaksa membalas denagn serangan. Melihat kejadian itu Nabi  merasa sedih sekali dan berteriak geram. Lalu dipanggilnya Khalid bin  Walid untuk menjelaskan kejadian tersebut. Setealah diketahuinya apa  yang terjadi itu, teringatlah ia bahwa yang sudah dikehendaki Allah,  itulah yang terbaik.
Selanjutnya Nabi Muhammad SAW memasuki Ka’bah membersihkannya dari  patung-ptung berhala. Beliau bersama kaum Muslimin melakukan Thawaf  sebanyak tujuh kali. Selesai beliau melakukan Thawaf, dipanggilnya  Ustman bin Thalhah juru pintu Ka’bah untuk membukakan pintu. Sekarang  nabi Muhammad SAW berdiri didepan pintu, penduduk makkah yang puluhan  ribu jumlahnya sudah berkumpul disitu. Mereka menunggu-nunggu tindakan  apakah yang akan dilakukan Rasulullah setelah menduduki makkah. Lalu  beliau berpidato dihadapan mereka itu serta membacakan firman Allah SWT  Surat Al Hujuraat ayat 13 :

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki  dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan  bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang  paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling  bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha  Mengenal. يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ  وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ  أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ 13
Dan diperjelas dengan Sabda Beliau dalam suatu Hadits
“Wahai segenap manusia, sesungguhnya Robbmu satu dan bapakmu satu. Tidak  ada kelebihan bagi seorang Arab atas orang Ajam (bukan Arab) dan bagi  seorang yang bukan Arab atas orang Arab dan yang (berkulit) merah atas  yang hitam dan yang hitam atas yang merah, kecuali dengan ketakwaannya.  Apakah aku sudah menyampaikan hal ini?” (HR. Ahmad)
Jadi setiap manusia itu dimata Allah adalah sama yang  membedakannya adalah ketaqwaan mereka bukan dari keturunan ataupun  berdasarkan suku atau bangsa.
Setelah berpidato, lalu nabi bertanya kepada mereka,” Wahai orang-orang  Quraisy, hukuman apa yang mesti aku lakukan terhadap kamu sekarang?”  Mereka menjawab, ‘ Yang baik-baik, wahai saudara yang pemurah.” Lalu  Nabi mengatakan, “Pergilah kamu sekalian. Kamu sekarang sudah bebas.”.
Dengan hati yang lega dan puas , penduduk Makkah dari keadaan panic dan  cemas, berubah menjadi keadaan gembira dan sukaria, sejak saat itulah  orang-orang Quraisy berduyun-duyun memeluk Islam. Mulai dari golongan  yang serendah-rendahnya sampai kepada golongan yang setinggi-tingginya.  Kepala-kepala perang mereka yang telah berkali-kali berperang melawan  Nabi, sekarang dengan hati yang tulus ikhlas serta dengan iman yang  teguh masuk agama islam, menjadi pahlawan-pahlawan Islam yang riwayat  hidup mereka tertulis dengan tinta emas dalam sejarah Islam.
Demikianlah Islam datang tanpa permusuhan, tanpa dendam serta tanpa  pertumpahan darah. Tidak pernah ada penaklukan tanpa pertumpahan darah  dan tidak pernah ada ampunan seperti yang pernah diperlihatkan Nabi  kepada orang yang ditaklukannya dalam sejarah dunia. Islam datang  membawa perdamaian dan kebenaran. Islam maju dan berkembang karena  kemuliaan Akhlaq Rasulullah SAW bukan dengan pemaksaan dan kekerasan  karena tiada paksaan didalam memeluk agama islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar